Sabtu, 08 Oktober 2011

Remaja dan Cokelat


Kebanyakan remaja mengakui menyukai cokelat. Memang makanan ini tidak melihat faktor kelompok umur ataupun jenis kelamin, dikarenakan manfaatnya yang cukup banyak.

Cokelat di duga dapat menurunkan resiko serangan jantung.
Mengkonsumsi beberapa keping cokelat murni setiap hari dapat menurunkan resiko kematian akibat serangan jantung pada hampir 50% kasus. Pendapat ini diungkapkan oleh seorang peneliti dari John Hopkins University School, USA. Pada penelitiannya terungkap bahwa pembentukan gumpalan darah/trombus pada pemakan cokelat jauh lebih lambat daripada yang tidak mengkonsumsi cokelat. Hal ini tentu saja banyak benarnya karena bentukan trombus yang terlalu besar akan menyebabkan pembuluh darah jantung tersumbat dan bisa menyebabkan serangan jantung.
Diungkapkan pula kalau flavanols yang terdapat dalam biji kakao mempunyai efek biokimia menurunkan pembentukan gumpalan darah yang mirip dengan cara kerja aspirin tetapi efeknya tentu lebih rendah dari aspirin. Beberapa pendapat lain yang berkembang dalam hubunganya mengenai kegunaan cokelat dalam menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler antara lain: menurunkan tekanan darah, menurunkan oksidasi LDL kolesterol, dan mempunyai efek anti inflamasi. Sayangnya semua itu masih memerlukan penelitian lanjutan untuk memperoleh hasil yang lebih akurat.
Cokelat dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan resistensi insulin. Menurut penelitian yang dilakukan di Italia dengan membandingkan 15 orang sehat yang diberikan cokelat yang mengandung flavanols dan coklat yang tidak mengandung flavanols untuk kemudian diamati selama 15 hari, ditemukan bahwa resistensi insulin (faktor resiko kencing manis) pada kelompok yang mengkonsumsi cokelat yang ber-flavanols, sangat jauh menurun. Tekanan darah sistolik juga menurun pada kelompok ini.
Cokelat dapat memperbaiki sirkulasi darah arteri.
Orang sehat yang mengkonsumsi cokelat tinggi flavanols menurut para ahli mempunyai sirkulasi darah arteri yang bagus. Diungkapkan pula pada orang yang rajin mengkonsumsi cokelat tinggi flavanols, kemampuan pembuluh darahnya untuk berelaksasi sangat tinggi. Tentu saja semua ini sangat berguna untuk kesehatan jantung.
Seperti yang diungkapkan di awal, sayangnya tidak semua cokelat yang beredar di pasaran mengandung antioksidan flavanoid yang tinggi. Hanya ada satu catatan penting yang harus diingat, yaitu semakin banyak kandungan cokelat murni dalam suatu produk cokelat maka semakin tinggi kadar antioksidannya. Selain itu, jangan lupakan kalori yang terkandung di dalam cokelat. Seratus gram cokelat yang di jual di pasaran mengandung kira-kira 150 kalori. Jadi, semua manfaat cokelat akan lenyap jika seandainya makanan lain yang dikonsumsi juga mengandung kalori yang tinggi sehingga konsumsi kalori terlalu tinggi. Hal ini tentu sangat tidak menguntungkan untuk program diet Anda.

Waspadai Alergi Susu Sapi pada Anak



Alergi terhadap susu sapi memang semakin banyak dialami oleh anak-anak di bawah usia 3 tahun, terutama usia di bawah 12 bulan. Hal ini disebabkan ada reaksi imunologi pada tubuh si bayi. Imunoglobulin (IgE) merespon protein susu sapi dan menilainya sebagai benda asing dalam tubuh si bayi. Akibatnya, protein tadi tidak tercerna dengan baik, malah menimbulkan gangguan berupa gejala-gejala reaksi alergi. Alergi ini akan terjadi ketika sistim imun bayi menyadari bahwa protein yang terkandung dalam susu sapi sebagai zat yang berbahaya. Sekitar 2-3 persen bayi berusia 0-3 tahun mengalami alergi susu sapi, ini dikarenakan bayi mempunyai sistem imun yang masih imatur dan rentan.

Banyak penelitian membuktikan bahwa factor utama bayi alergi adalah karena mereka tidak mendapatkan Kolustrum Air Susu Ibu (ASI), jadi untuk menghindari alergi ini yaitu adalah dengan pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan.

Kita sebagai orangtua harus memperhatikan riwayat-riwayat kesehatan pada tubuh kita. Jika Bunda yang memiliki riwayat alergi, maka si bayi memiliki kemungkinan 50% alergi, jika hanya sang ayah yang membawa genetika alergi, kemungkinan 20% terkena alergi yang sama. Namun jika keduanya. Maka si bayi kemungkinan 70% membawa factor genetic tersebut.

Efek alergi yang ditimbulkan:

Reaksi cepat. Gejala akan muncul setelah 45 menit meminum susu sapi. Yaitu berupa, bintik merah pada kulit bayi, rasa gatal, gangguan sistem saluran napas seperti napas berbunyi ngik, bersin, hidung dan mata gatal serta mata merah.

Reaksi sedang. Akan muncul setelah 45 menit - 20 jam setelah bayi meminum susu sapi, yang ditandai dengan muntah dan diare.

Reaksi lambat. Umumnya gejala berupa diare, konstipasi (sulit BAB) dan dermatitis (eksim kulit), baru akan terlihat setelah lebih dari 20 jam.

Secara umum, gangguan dari efek alergi susu sapi ada bermacam-maca, pada saluran pencernaan, seperti diare, kolik, susah BAB, sampai pendarahan saluran cerna, bias juga menyebabkan ruam-ruam merah dan bengkak-bengkak pada kulit-bahkan mempengaruhi juga ke saluran pernafasan, seperti pilek, batuk terus-menerus, mengi dan asma.

Tindak Lanjut

Berikan ASI. Namun jika produksi ASI tidak banyak, Anda perlu memperhatikan pemberian susu sapi pada bayi. Ganti ASI dengan susu formula terhidrolisa sebagian (partially hidrolized), dan terhidrolisa penuh (extensively hydrolized). Perhatikanlah reaksinya setelah diberi susu. Jika muncul gejala yang mencurigakan, segera hentikan dulu pemberian susu sapi.

Konsultasikan masalah bayi Anda pada dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik dan tepat.

Hindari memberikan makanan pemicu alergi seperti telur, ikan laut, kacang-kacangan dan buah-buahan tertentu. Biasanya bayi yang alergi susu sapi juga mengalami alergi terhadap makanan lainnya. 

Orangtua yang memiliki riwayat alergi cenderung berisiko tinggi menurunkan penyakit alergi ini pada bayi yang dilahirkan. Sejumlah ahli alergi munologi menyakini, risiko mengalami alergi pada bayi sekitar 30 persen jika salah satu orangtua menderita alergi. Risiko akan meningkat dua kali lipat jika kedua orangtua adalah penderita alergi.


sumber: http://www.info-sehat.com