Rabu, 11 April 2012

Tips Pengusaha Membahagiakan Karyawannya


SALAH SATU kunci rendahnya turn over karyawan di perusahaan adalah dengan membuat para karyawan tersebut bahagia di tempat kerja dan dapat menikmati pekerjaannya. Masalahnya, bukan hal yang mudah bagi seorang manajer untuk dapat mengenali gejala apakah karyawannya bahagia di tempat kerja atau justru sebaliknya.
Ada beberapa gejala yang dapat dilihat ketika seorang karyawan harus mulai mendapat perhatian khusus berkaitan dengan rasa unhappy terhadap pekerjaannya:
1. Datang terlambat dan sering mengaku sakit.
Untuk seorang karyawan yang merasa puas dengan pekerjaannya, datang terlambat dan alpha dalam presensi, sebisa mungkin tentunya akan dihindari. Untuk itulah, tidak salah jika seorang manager mewaspadai beberapa karyawan yang menunjukkan gejala seperti itu.
Perlu juga bagi manager untuk lebih jeli melihat alasan-alasan apakah yang digunakan karyawan ketika tidak hadir. Jika macet dan urusan pribadi sering muncul sebagai alasan, maka bisa jadi karyawan tersebut sedang melirik peruntungan lain dengan pekerjaan baru.
2. Saat makan siang atau coffee break, seorang karyawan menghabiskan waktu lebih lama.
Tidak salah bagi perusahaan untuk memberikan jeda makan siang atau free coffee break untuk karyawan, akan tetapi jika seorang karyawan justru memanfaatkan waktu istirahat tersebut secara berlebihan dan terlambat bekerja, boleh jadi karyawan tersebut tidak puas dengan tempat kerjanya.
3. Karyawan tidak lagi produktif atau level produktivitasnya anjlok.
Perhatikan gerak-gerik karyawan saat bekerja, adakah di antara mereka yang terlalu sering melihat jarum jam? Biasanya, tipe karyawan seperti itu tidak cukup senang dengan pekerjaannya. Datang terlambat dan keluar dari kantor secepatnya adalah hal yang paling mereka inginkan.
Konsekuensi logisnya, tentu adanya penurunan produktivitas. Jadi jangan menunda untuk segera melakukan pertemuan dan komunikasi personal. Segera cari tahu faktor apa yang menyebabkan ia tidak puas dalam bekerja dan tawarkan solusi yang tepat.
4. Karyawan yang suka menarik diri dari rekan-rekannya.
Karyawan yang puas akan pekerjaannya cenderung lebih senang bersosialisasi dengan koleganya. Jika Anda adalah seorang manager dan mendapati karyawan Anda mulai menarik diri dari pergaulan kantor, bisa jadi ia sedang memiliki masalah. Karyawan yang bermasalah cenderung mudah tersinggung dan terpancing untuk marah.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan manager untuk menyikapi anak buahnya yang “tidak bahagia” di tempat kerja tersebut.
1. Berikan prospek karir yang jelas.
Karyawan umumnya sangat ingin tahu “nasib masa depan” mereka di perusahaan tersebut. Untuk itulah, seorang karyawan harus sering dilibatkan dalam penggarapan proyek penting dan menarik. Selain itu, program training dan pengembangan harus rutin dilakukan.
2. Kenali pentingnya keseimbangan hidup dalam bekerja.
Di luar lingkungan kantor, seorang karyawan adalah juga seorang ayah, ibu, saudara dan peranan lain di keluarga dan masyarakat. Itu berarti tidak ada seorang karyawan pun yang ingin tetap tinggal di kantor di luar jam kerja ketika sebenarnya waktu itu dapat mereka pergunakan untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman-temannya. Seorang manajer harus peka dengan itu.
3. Hargai dan akui keunggulan mereka.
Setiap manusia umumnya memiliki sifat alami yakni ingin dihargai dan memperoleh pengakuan atas hasil kerja kerasnya. Jadi ketika seorang karyawan melakukan pekerjaan dengan baik, janganlah ragu untuk memberikan pujian. Demikian juga ketika ia menyumbangkan ide kreatifnya, berilah kepercayaan.
4. Dengarkan dan berilah saran yang membangun.
Ketika seorang karyawan didengarkan aspirasinya, kepercayaan diri dan kemampuan berpikir kreatif akan terstimulasi. Oleh karenanya, penting bagi manager untuk mau mendengar. Dan apabila karyawan membuat kesalahan, bantulah dengan saran-saran yang membangun.
Karyawan yang puas dan mencintai pekerjaannya adalah kunci suksesnya produktivitas. Jadi, tidak salah bagi manager untuk mencoba mengaplikasikan tips di atas untuk para karyawannya. (portalhr.com)

Sifat yang Hanya Dimiliki Pengusaha Muslim


Al kisah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua kakak beradik, yang satu berwirausaha sedangkan  saudaranya aktif menuntut ilmu di majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berdua hidup dari penghasilan si pengusaha tersebut. Suatu saat, si pengusaha ini pernah diliputi perasaan risih dengan peran yang dimainkan oleh saudaranya. Menurut dia tidak adil jika saudaranya yang hanya menuntut ilmu ikut makan sehari-hari bersamanya, karena ia merasa saudaranya itu tidak punya peranan sedikit pun dalam keberhasilan usahanya.

Ia pun datang mengadu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal keadaan mereka berdua. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati si pengusaha agar jangan risau dan jangan menyalahkan saudaranya, seraya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Mungkin saja saudaramu itulah penyebab turunnya rezekimu”.
Kisah ini dimuat dalam Sunan Tirmizi kitab Zuhud Bab tawakkal.
Dalam berusaha mencari rezeki dan nafkah, kita semua meyakini bahwa semuanya sudah ditentukan dan diatur oleh Allah Ta’ala. Kita hanya bertugas mengumpulkan segala upaya dan sebab musabab yang bisa mendatang rezeki, asalkan segala upaya tersebut halal hukumnya. Perhitungan yang sudah sewajarnya dilakukan oleh setiap pengusaha adalah: mereka meyakini bahwa yang berperan sebagai sebab turunnya rezeki adalah usaha dirinya sendiri dan juga bantuan orang lain yang aktif dalam usahanya.
Namun, dalam hadis di atas, Rasulullah mengingatkan suatu hal yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh segenap pengusaha. Bahwa di luar sana ada suatu kekuatan besar yang berperan sebagai sebab datangnya rezeki. Kekuatan tersebut bukan berasal dari para karyawannya, atau distributor barangnya atau kolega serta networknya. Tapi,kekuatan tersebut justru datang dari orang yang tidak disangka-sangka, yang tidak ada hubungan dengan perusahaannya.
Perhatikanlah, bagaimana seorang yang hanya beraktifitas sebagai penuntut ilmu dinyatakan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai faktor penyebab kesuksesan usaha saudaranya. Ucapan Rasulullah tersebut menepis prinsip yang dulu berkecamuk, yaitu keyakinan bahwa hasil dan keberhasilan yang kita capai adalah hasil 100% dari sebab usaha kita, tanpa ada campur tangan orang lain.
Di sini Rasulullah berpesan bahwa saudaramu yang kerjanya menuntut ilmu, juga mempunyai peran dalam kesuksesan usahamu. Pesan singkat Rasulullah kepada sahabat tadi secara otomatis pelajaran menjadi bagi kita semua sebagai ummatnya.
Nah, keyakinan yang dipupuk oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pesan singkatnya ini adalah keyakinan yang hanya dimiliki oleh pengusaha muslim. Mengapa saya sebut demikian? Karena, sifat pertama yang dimiliki oleh orang bertaqwa adalah sifat beriman pada yang gaib. Dan ini termasuk gaib, karena berbentuk abstrak tidak bisa dihitung dengan kalkulasi akuntansi.
Sekarang siapa yang mau percaya bahwa rezeki kita turun disebabkan oleh orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita? Tidak lain dan tidak bukan, orang muslimlah yang memiliki keyakinan itu, karena ia beriman kepada kebenaran firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan yang diyakini oleh kebanyakan orang adalah sesuatu yang sifatnya kongkrit, yang bisa dilihat mata, bisa diraba indra, dan bisa dihitung dengan akuntansi atau matematika. Orang seperti ini wajar bila menghitung laba dan untung yang akan diperolehnya hanya dari orang yang ikut andil secara langsung dalam usahanya. Sedangkan orang lain, apa perannya?
Dalam hadis lain Rasulullah bersabda, “Sungguh kalian diturunkan rezeki karena sebab orang  miskin dan lemah.” (HR. Bukhari).
Jadi, orang miskin harta dan tidak mampu bekerja juga ikut andil menjadi faktor turunnya rezeki pada kita semua. Dalam tafsir hadis ini disebutkan, yang dimaksud dengan orang miskin menjadi sebab diturunkan rezeki pada manusia adalah karena doa mereka yang ikhlas. Ikhlas tersebut timbul karena mereka merasa tidak punya harapan rezeki kecuali pada pertolongan Allah Ta’ala. Wajar  saja jika doa mereka keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
Bisa kita bayangkan, bedanya doa antara seorang petani yang menderita kekeringan sawahnya, tidak lagi ada sumber mata air, kecuali satu-satunya harapan adalah hujan dari langit; bandingkan dengan doa petani lain yang juga diderita kekeringan, tapi masih punya dana untuk mengairi sawahnya dengan mesin pompa air. Kira-kira, samakah nilai harapan turunnya hujan dalam doa mereka berdua??
Doa ini lah yang mendatangkan rezeki kepada orang lemah fisik maupun finansial. Rezeki tersebut biasanya AllahTa’ala salurkan melalui tangan para saudagar dan pengusaha kaya.
Apabila Rasulullah mengingatkan kita untuk menghargai orang lain yang tidak ada hubungannya dengan bisnis kita, maka lebih utama lagi bila kita menghargai para karyawan dan bawahan kita. Karena, merekalah yang berperan langsung dalam kesuksesan usaha kita. Oleh karena itu, berikanlah hak-hak mereka dengan sempurna; perlakukanlah dengan penuh hormat dan bijaksana; jangan bersikap angkuh dan congkak terhadap mereka kerena pada hakikatnya derajat kita sama.